“ANAK PERLU DUA SAYAP: GURU DAN ORANG TUA”
oleh Wardiman, S.Pd., M.Pd. (SMAN 1 Banjarmasin).

Pada dunia pendidikan, guru seringkali diasimilasikan sebagai palu godam yang berkewajiban untuk menempah dan membentuk karakter setiap anak, menjamin ilmu pengetahuan serta memberi kecakapan dalam bertahan hidup. Tak jarang, beberapa guru ditarik laksana jangkar kapal yang isinya anak-anak dengan karakter beragam; ada yang tenang seperti air laut pagi, ada pula yang gelisah bak badai di malam hari. Problematika seperti ini bukan yang pertama kali terjadi namun sering mendulam masa ke masa. Guru dituntut oleh pemerintah dan masyarakat untuk menjadi nahkoda kapal menuju ke pelabuhan kesuksesan sekaligus menjaga agar tak karam di tengah perjalanan.
Paradigma yang masih bergulir sekarang adalah guru harus menjadi segalanya, pendidik, fasilitator, motivator, pengasuh bahkan menjadi orang tua kedua di sekolah. Kenyataan yang sering luput ialah, sehebat dan sekeras apapun guru berjuang jika orang tua abai dan lepas tanggungjawab dalam mendidik anak di rumah maka perlahan anak-anak akan timpang bahkan kehilangan arah seiring berjalannya waktu. Orang tua wajib memastikan pendidikan dari rumah untuk anak-anak, sebab orang tua menjadi palang pintu dunia dan seisinya. Dalam kehidupan seorang anak, rumah sebagai sekolah pertama dan orang tua adalah guru sejati yang membukakan gerbang pengetahuan, karakter, dan nilai-nilai kehidupan yakni, cinta, kepercayaan, ketulusan, rasa ingin tahu.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh john Holt dalam bukunya “How Cildren learn”, seorang anak ingin belajar bukan karena sebuah perintah tetapi didasari oleh rasa ingin tahu yang tinggi” dan rasa ingin tahu tersebut tentu didapatkan dalam pendidikan di rumah. “Bagaimana pelukan seorang ibu diberikan secara alami dan dukungan seorang ayah yang selalu membimbing tanpa pamrih”. Ibarat Benteng kokoh dalam sebuah kerajaan, pasukan akan dilatih, dibentuk, dan dipersiapkan dalam pertempuran, ketika tiba di arena peperangan maka mereka akan tahu arti sebuah pembelajaran. Demikian pula dengan pendidikan di rumah, keluarga bukan hanya sebagai pelindung tetapi tempat mendidik generasi masa depan secara utuh.
Harapan dan kenyataan selalu tak seirama dalam implementasi. Terkadang, harapan orang tua kepada guru bukan lagi tentang pertumbuhan jiwa melainkan tempat penitipan anak di sekolah. Faktanya terbilang miris dan demikian adanya, tetapi dunia pun tahu bahwa guru adalah penerus nilai bukan penanam nilai. Jika anak adalah sebuah benih maka ia tak tumbuh hanya sekadar diberi pupuk lalu ditinggalkan kemudian menunggu hasil, bukan seperti itu tetapi anak perlu sentuhan awal dari kasih, pemahaman, budi pekerti, waktu dan kehadiran orang tua agar ia tumbuh menjadi anak yang utuh.
Tak ada yang salah ataupun disalahkan pada problematikan seperti ini. sesekali bernalar dan melihat dari hati bahwa pendidikan yang baik adalah ketika dua sayap, orang tua dan guru saling bersinergi dalam membentuk dan mengantarkan anak-anak menuju puncak kesuksesan. Waktu orang tua dan guru terbilang berbeda (porsi). Kebersamaan orang tua terbilang lama, sejak awal pelukan pagi, cerita menjelang tidur dan nilai-nilai yang disematkan dalam keseharian. Sementara guru terbilang sedikit, terbatas ruang dan waktu dalam kebersamaan anak-anak. Seperti yang dikatakan oleh, Wiliiam Butler seorang tokoh sastra besar berasal dari Irlandia “Education is not the filling of a pain but the lighting of a fire”.
Secara mendalam, pendidikan atau ilmu bukan sekadar mengisi wadah kosong dengan berbagai informasi, fakta dan beribu hafalan. Jika pendidikan diasumsikan demikian, maka anak hanya dijadikan sebagai bejana yang tinggal dituangkan isi apa saja. Hasilnya adalah anak hanya berfokus pada sistem menerima dan pasif tanpa mementingkan nalar berpikir secara kritis. “Menerima tanpa bertanya, melakukan tanpa memahami”. Sudah saatnya kita berhenti berharap untuk menjadikan guru sebagai ujung tombak yang nyata dan selalu meletakkan beban pendidikan sepenuhnya di pundak guru-guru di sekolah. Sebab, dalam menciptakan dan membangun karakter generasi ungul dan bermoral bukan sekadar tanggungjawab sepihak tetapi semua yang terlibat yakni orang tua serta pemerintah. Pendidikan adalah ruang kolaboratif dan kebersamaan yang sakral antra guru dan orang tua secara nyata. Keduanya harus saling percaya dan menguatkan demi satu tujuan yakni anak tumbuh dan menjadi manusia bermanfaat, utuh, dan berkarakter baik secara akademik dan non akademik.
Anak akan terbang tinggi jika kedua sayapnya utuh dan saling mendukung satu sama lain karena pada akhirnya, untuk melihat pemandangan yang indah harus ada upaya dan usaha untuk menggapainya dengan cara bergerak selaras dan sayapnya tidak patah akan keegoisan semata. Maka, mari merawat kedua sayap itu. Kita kuatkan peran masing-masing, satukan arah dan tujuan supaya anak-anak tak hanya mampu terbang tetapi juga menemukan arah dan tempat terbaik untuk mendarat sebagai manusia yang bermakna, tangguh, dan membahagiakan.
