Ilmu PengetahuanNewsPendidikanPopular News

Meneropong Program Unggulan Ibu Kadisdikbud Kalsel dan Implementasinya Menuju 100 Hari Kerja

Oleh: Dr. Drs. H. Syahrir, MM (Kepala SMKN 5 Banjarmasin)/ Pengamat Kebijakan Publik

Pendahuluan

Pelantikan pejabat baru dalam birokrasi pemerintahan, khususnya di sektor pendidikan, selalu membawa harapan besar dari berbagai kalangan. Hal itu juga dirasakan ketika Ibu Dr. Ir. Hj. Galuh Tantri Narindra, ST., MT. resmi dilantik sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan pada 14 Juli 2025. Momentum ini menjadi titik awal bagi beliau untuk menata kembali arah pembangunan pendidikan dan kebudayaan di Banua, sekaligus memberikan warna baru melalui program unggulan yang dicanangkan sejak awal menjabat.

Seperti lazimnya pejabat publik yang baru dilantik, terdapat semacam “kontrak moral” seratus hari kerja yang menjadi tolok ukur awal sejauh mana visi dan misi bisa diimplementasikan secara nyata. Seratus hari bukan waktu yang panjang, tetapi cukup strategis untuk menguji komitmen, konsistensi, dan langkah nyata seorang pemimpin baru. Dalam konteks ini, Ibu Kadisdikbud Kalsel telah menetapkan empat program prioritas unggulan, yakni:

1. Peningkatan Akses Pendidikan.

2. Peningkatan Kualitas Peserta Didik.

3. Peningkatan Kualitas Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK).

4. Peningkatan Kebudayaan.

Keempat program ini bukan sekadar jargon administratif, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan fundamental dunia pendidikan di Kalimantan Selatan. Menarik untuk meneropong lebih jauh bagaimana implementasi program tersebut diarahkan, apa terobosan yang ditawarkan, serta sejauh mana potensi keberhasilannya dalam kurun waktu 100 hari kerja awal.

Peningkatan Akses Pendidikan

Pendidikan adalah hak semua warga negara tanpa terkecuali. Namun realitas di lapangan masih menunjukkan adanya kesenjangan akses, baik karena faktor ekonomi, geografis, maupun sosial budaya. Program Peningkatan Akses Pendidikan yang diusung Ibu Kadisdikbud patut diapresiasi karena mencakup berbagai aspek yang konkret.

Salah satu langkah menarik adalah gagasan “Awarding Sekolah/Kepala Sekolah Kinerja Terbaik”. Selama ini, penghargaan semacam ini jarang sekali menjadi fokus di level dinas. Padahal, pemberian penghargaan dapat menjadi motivasi besar bagi sekolah maupun kepala sekolah untuk terus berinovasi. Namun tentu, penghargaan ini harus berbasis parameter yang jelas dan terukur. Beberapa indikator yang bisa dijadikan rujukan misalnya: Inovasi pendidikan yang mampu mengatasi persoalan masyarakat setempat, Relevansi program sekolah dengan kebutuhan lokal (local wisdom), Kinerja administratif dan kepemimpinan kepala sekolah dalam menjalankan tupoksi.Karya nyata sekolah yang bisa dilihat langsung melalui studi lapangan.

Selain awarding, program lain yang tak kalah penting adalah peningkatan akses pendidikan vokasi berbasis kearifan lokal. Kalsel sebagai daerah dengan potensi sumber daya alam dan budaya yang kaya membutuhkan pendidikan vokasi yang relevan dengan kebutuhan daerah. Misalnya, pengembangan keahlian di bidang pertambangan ramah lingkungan, pengolahan hasil perikanan, atau kriya berbasis budaya Banjar dan Dayak. Hal ini sejalan dengan kebutuhan industri sekaligus menjaga kelestarian kearifan lokal.

Implementasi lain dari program akses pendidikan adalah bantuan bagi siswa miskin dan rentan miskin (ini sudah terealisasi) dan sudah diserahkan kepada 10.030 siswa BSKM SMA/SMK se Kalsel. Langkah ini sangat relevan mengingat masih banyak anak di daerah pedalaman maupun perkotaan yang terancam putus sekolah karena keterbatasan biaya. Apabila skema bantuan ini diperkuat dengan kerja sama perusahaan di Kalsel, maka dampaknya akan semakin signifikan. Perusahaan dapat dilibatkan melalui peningkatan Corporate Social Responsibility (CSR), terutama untuk mendukung sarana prasarana sekolah maupun beasiswa.

Peningkatan Kualitas Peserta Didik

Akses pendidikan yang luas tidak akan berarti jika tidak diiringi dengan peningkatan kualitas peserta didik. Pada era yang penuh disrupsi saat ini, kualitas SDM menjadi faktor penentu daya saing daerah maupun bangsa.

Langkah awal yang sudah terlihat adalah adanya kerja sama dengan perusahaan di Kalsel untuk serapan tenaga kerja. Sinergi ini penting untuk menghubungkan dunia pendidikan dengan dunia kerja (link and match). Peserta didik SMK, misalnya, akan lebih siap menghadapi dunia kerja jika sejak awal sudah diarahkan sesuai kebutuhan industri.

Selain itu, peningkatan kualitas peserta didik juga bisa diarahkan melalui: Peningkatan literasi dan numerasi sebagai basis kompetensi dasar, Penguatan karakter: misalnya dengan menanamkan nilai kejujuran, disiplin, dan kerja sama, Pendidikan berbasis teknologi, melalui pemanfaatan digitalisasi dalam pembelajaran, Pengembangan minat bakat: seperti seni, olahraga, dan kewirausahaan.

Jika dalam 100 hari pertama Ibu Kadisdikbud mampu menyiapkan kerangka implementasi yang jelas, maka program ini akan menjadi fondasi kuat untuk pembangunan pendidikan jangka panjang di Kalsel.

Peningkatan Kualitas Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK)

Guru adalah ujung tombak pendidikan. Tanpa guru yang berkualitas, sulit mengharapkan peserta didik yang unggul. Di sinilah program peningkatan kualitas GTK menjadi sangat krusial.

Salah satu masalah klasik yang berhasil disentuh oleh Ibu Kadisdikbud adalah belum adanya bank data kebutuhan diklat GTK. Selama ini, pelatihan guru sering dilakukan tanpa perencanaan yang berbasis data. Akibatnya, ada guru yang mendapatkan pelatihan berulang, sementara guru lain sama sekali belum tersentuh. Dengan adanya database diklat GTK, program peningkatan kompetensi bisa lebih merata, terstruktur, dan sesuai kebutuhan.

Selain itu, perhatian juga diarahkan pada perbaikan TPP (Tunjangan Perbaikan Penghasilan) bagi GTK di daerah terpencil. Isu kesejahteraan memang sering menjadi keluhan para guru di daerah pedalaman. Dengan memperbaiki skema TPP, diharapkan motivasi guru untuk mengajar di daerah terpencil semakin tinggi, sehingga kualitas pendidikan di sana tidak jauh tertinggal dibanding daerah perkotaan.

Lebih jauh lagi, peningkatan kualitas GTK bisa dilakukan melalui: Program mentoring atau pendampingan bagi guru-guru muda oleh guru senior,Pemanfaatan teknologi untuk pelatihan daring yang lebih fleksibel, Kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam mengembangkan kurikulum pelatihan, Pemetaan kebutuhan guru sesuai bidang studi agar distribusi lebih merata.

Jika bank data dan skema pelatihan bisa mulai dipetakan dalam 100 hari kerja, itu sudah menjadi langkah besar yang akan berdampak jangka panjang.

Peningkatan Kebudayaan

Sektor kebudayaan sering kali kurang mendapat perhatian dibanding pendidikan formal. Namun, dalam program unggulan Ibu Kadisdikbud, peningkatan kebudayaan menjadi salah satu prioritas.

Salah satu langkah nyata adalah peningkatan pagelaran atau pertunjukan berbasis data/kebutuhan. Artinya, setiap kegiatan budaya tidak hanya seremonial, tetapi berbasis riset kebutuhan masyarakat dan kondisi budaya lokal. Misalnya, bagaimana seni tradisional Banjar atau Dayak bisa dikemas ulang agar relevan dengan generasi muda.

Selain itu, ada program penyusunan perhitungan Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) dan penguatan data pokok kebudayaan. Langkah ini penting agar kebijakan di bidang kebudayaan berbasis data, bukan sekadar asumsi.

Implementasi kebudayaan dalam 100 hari kerja bisa diarahkan pada:

Pendataan aset budaya baik tangible (benda, situs) maupun intangible (tradisi, bahasa, kesenian),Menyusun peta jalan pelestarian budaya lokal yang terintegrasi dengan pendidikan, Mendorong kolaborasi dengan komunitas budaya agar kegiatan tidak hanya top-down dari pemerintah, Menghidupkan festival budaya lokal yang bisa menarik wisatawan sekaligus memperkuat identitas daerah.

Tantangan Implementasi

Meski program unggulan ini sangat strategis, implementasinya tentu tidak lepas dari berbagai tantangan. Beberapa tantangan yang bisa diidentifikasi antara lain:Sinergi internal dan eksternal: Program hanya akan berhasil jika ada sinergi kuat antara pejabat struktural dan fungsional di Dinas Pendidikan, serta kepala sekolah SMA/SMK/SLB sebagai ujung tombak. Tanpa ruang dialog yang terbuka, program berisiko tidak tepat sasaran.

Keterbatasan anggaran: Banyak program membutuhkan dukungan finansial besar, sementara APBD memiliki keterbatasan. Di sini, kerja sama dengan perusahaan melalui CSR menjadi solusi alternatif.

Kendala geografis: Kalsel memiliki wilayah yang luas dengan akses ke daerah terpencil yang sulit. Hal ini mempengaruhi distribusi guru, bantuan, maupun sarana pendidikan.

Kesiapan SDM: Tidak semua guru atau kepala sekolah siap beradaptasi dengan tuntutan inovasi. Dibutuhkan pendekatan persuasif agar mereka mau berubah.

Refleksi 100 Hari Kerja

Seratus hari memang bukan waktu untuk menyelesaikan semua persoalan. Namun, seratus hari adalah waktu untuk menunjukkan arah, komitmen, dan langkah awal yang nyata. Dalam konteks program unggulan Ibu Kadisdikbud Kalsel, beberapa indikator keberhasilan 100 hari bisa diukur dari:

Apakah parameter awarding sekolah/kepsek terbaik sudah dirumuskan?- Apakah database kebutuhan diklat GTK sudah mulai dibangun?

Apakah ada rencana aksi IPK dan data pokok kebudayaan yang disusun?

Sejauh mana dialog dengan kepala sekolah dan stakeholder pendidikan rutin dilakukan?

Jika indikator ini dapat dicapai dalam 100 hari kerja, maka pondasi kuat telah diletakkan untuk pembangunan pendidikan dan kebudayaan Kalsel dalam lima tahun ke depan.

Penutup

Program unggulan yang digagas Ibu Dr. Ir. Hj. Galuh Tantri Narindra, ST., MT. sejak awal menjabat sebagai Kadisdikbud Kalsel bukan sekadar jargon, melainkan jawaban nyata atas problem pendidikan dan kebudayaan di Banua. Empat program prioritas—peningkatan akses pendidikan, kualitas peserta didik, kualitas guru dan tenaga kependidikan, serta peningkatan kebudayaan—merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi.

Kunci keberhasilan program ini terletak pada sinergi dan komitmen bersama. Tidak hanya di internal Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, tetapi juga melibatkan kepala sekolah, guru, siswa, masyarakat, serta dunia usaha. Dengan langkah-langkah awal yang jelas dalam 100 hari pertama, diharapkan pendidikan dan kebudayaan Kalsel akan memasuki babak baru yang lebih maju, inklusif, dan berdaya saing.Harapan kita semua, di bawah kepemimpinan Ibu Kadisdikbud yang visioner, pendidikan di Kalimantan Selatan tidak hanya mampu menjawab tantangan masa kini, tetapi juga mempersiapkan generasi masa depan yang cerdas, berkarakter, dan berbudaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *