ASA PEMUDA YANG MULAI SIRNA
Wardiman, S.Pd., M.Pd. (SMAN 1 Banjarmasin)

Para pemuda Indonesia berikrar untuk bersatu demi satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Maka dari sanalah napas Pemuda dicatat dalam sejarah pada 28 Oktober 1928. Janji itu bukan sekadar kata yang diucapkan tetapi tekad yang menyalakan api persatuan di dada pemuda dan bangsa. Dari ruang-ruang kecil dan jiwa-jiwa yang besar maka lahirlah semangat yang mengikat keberagaman menjadi kekuatan (Simpul). Pemuda menjadi tonggak lahirnya kesadaran nasional bahwa cinta tanah air bukan hanya tentang tempat lahir tetapi tentang kesediaan berkorban demi tegaknya kehormatan bangsa.
Namun, di era modern ini menjadikan semangat itu luluh seperti lilin yang mencair. Semangat perjuangan yang dulu membara kini sering tergantikan oleh kenyamanan dan kesenangan dunia maya. Banyak pemuda yang terseret arus kemudahan teknologi hingga lupa bahwa kemerdekaan yang kita rasakan hari ini bukan hadiah dari langit melainkan lahir dari tetesan darah dan air mata para pejuang yang tak gentar kehilangan segalanya demi tanah air.
Modernitas memang menawarkan kemajuan tetapi juga menyimpan jebakan yang perlahan mengikis idealis dan rasa nasionalisme. Berlari tanpa tujuan, sibuk mengejar cita namun mengabaikan makna hidup dimana ia berpijak sebelumnya. Kemajuan sejati bukan seberapa cepat berlari ke masa depan tetapi seberapa kokohnya memegang nilai yang dititipkan para pendahulu. Selaras dengan pesan Buya Hamka dalam siratnya: “Pemuda haruslah punya cita-cita tinggi supaya hidupnya berarti”.
Kalimat di atas menjadi pengingat bahwa pemuda sejati ialah mereka yang hidup dengan arah dan tujuan. Arah dan tujuan itu harus memiliki poin yang jelas yakni nilai, makna, dan cita. Tanpanya, setiap langkah hanya akan menjadi jejak tiada arah. Pemuda sejati menulis tujuannya dengan tinta tekad dan mewarnainya dengan tindakan. Sebab mereka paham, masa muda adalah waktu terbaik untuk menabur dan menanam benih sehingga kelak bangsa ini dapat menuai hasil dari kebajikan dan kerja keras mereka.
Cita-cita yang tinggi bukan berarti angan kosong tetapi keyakinan untuk memberi makna bagi kehidupan. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh godaan ini, ruh cita-cita menjadi kompas agar tidak tersesat dalam gemerlap yang menipu pandangan. Suara pemuda di zaman sekarang sangatlah dibutuhkan untuk meluluhlantakkan zaman yang serba instan. Pemuda hari ini harus berani menolak jalan pintas dan memilih jalan perjuangan. Mereka yang berpikir kritis, berbuat nyata, dan tidak mudah menyerah adalah penerus dari semangat bangsa. Dunia modern membutuhkan pemuda yang bukan hanya cerdas dalam teknologi, tetapi juga bijak dalam moral dan kuat dalam pendirian. Karena perubahan besar selalu dimulai dari suara kecil yang berani menyuarakan kebenaran.
Era pemuda bukan lagi mengangkat senjata tapi mengepal tangan lalu bersuara lantang demi keadilan serta menguatkan tekad untuk menentukan karakter masa depan bangsa. Indonesia telah menuju pintu keemasan dan jangan sampai keemasan itu berubah menjadi kecemasan (Prihatin). Survei Badan Kesbangpol Kemendagri (2022) menunjukkan bahwa hanya 41% pemuda yang masih merasa bangga dan ingin berkontribusi nyata untuk bangsanya. Sementara itu, 59% lainnya menilai nasionalisme sudah “tidak relevan lagi di era global.”
Dari angka-angka di atas, menunjukkan bahwa dari setiap 100 pemuda Indonesia, hanya 41 orang yang masih merasa bangga dan ingin berkontribusi nyata bagi bangsanya. Sementara itu, 59 orang lainnya menilai bahwa nasionalisme sudah tidak relevan lagi di era global yang serba cepat dan terbuka. Angka tersebut, bukan sekadar data tetapi cerminan sebagian generasi muda yang mulai kehilangan arah dan makna dari perjuangan kebangsaan. Hal yang paling dikhawatirkan ialah Jiwa Pemuda kini tidak lagi menjadi napas utama sebagian generasi muda; ia tergantikan oleh hiruk pikuk dunia digital yang menjanjikan sorak sorai sesaat namun melunturkan makna perjuangan sejati seolah hanya tinggal gema tanpa jiwa yang menghidupkannya. Pembangunan dan kemajuan tidak akan berarti tanpa karakter yang kuat. Oleh sebab itu, tekad dan integritas menjadi fondasi utama agar kemerdekaan tidak hanya menjadi slogan tetapi kenyataan dalam tindakan. Ketika pemuda kehilangan arah maka masa depan bangsa ikut kehilangan cahaya.
Pemuda memiliki peran sentral untuk menjaga bara semangat bangsa agar leluhur masih memberikan kepercayaan pada generasi sekarang dan tidak disesalkan oleh generasi yang akan datang. Para Pemuda harus menjadi api yang menuntun langkah di tengah gelapnya zaman, menyaringkan suara dalam keheningan karakter serta memastikan bara keyakinan tetap ada. Selama semangat itu dijaga, Indonesia akan tetap berdiri tegak bukan karena kuatnya tubuh tetapi karena teguhnya jiwa para pemuda yang tak pernah berhenti mencinta bangsanya. Indonesia kuat bukan karena tangannya yang mengcengkram pundak bumi Pertiwi melainkan teguh dan semangat para pemuda. Maka dari itu, kita sebagai generasi muda sudah seharusnya menjaga api semangat tetap hidup dengan cinta dan ketulusan meskipun riuh zaman lebih bergema ketimbang suara nurani pemuda.
