“Yang Belajar Itu Siapa Sebenarnya?”
Oleh: Dr. Drs. H. Syahrir, MM / Kepala SMKN 5 Banjarmasin (Pemerhati Pendidikan).

Saya mencoba merefleksikan dunia pendidikan di akhir tahun ajaran ini. Semester sudah berakhir, Buku catatan penuh kejadian, Rekap nilai pun rapi, Lembar asesmen otentik disusun, lengkap dengan bukti² foto² siswa sedang proyekan, pakai baju adat, tanam pohon, atau diskusi ala-ala anak-anak Google. Tapi pertanyaan yg nyangkut di kepala saya cuma satu: “Sebenernya yang belajar itu siapa sih”?
Negara ini, katanya, punya peta jalan pendidikan. Tapi kok ya rasanya kayak orang pegang Google Maps tapi tetep nanya jalan ke mbok² yg lagi nyapu dihalaman rumahnya. Peta ada, tapi bingung. Dan anehnya, yang paling sering diubah itu kurikulum ketika sedang bingung. Katanya cuma pendekatan. Tapi kok pendekatannya nyeret gerbong isi seluruh persilatan? Yang pendekatannya berubah, tapi guru dan murid malah makin kepontal-pontal ngejar istilah baru yang aslinya ganti baju dari istilah lama, tapi di lapangan yang ada… guru nyari waktu buat bikin dokumen, bukan buat mikirin murid.
Katanya pendekatan berpusat pada murid dan mendalam. Tapi murid mana yang ditanya maunya apa? Yang terjadi malah guru dipasung dengan format yang bahkan Kepala Sekolahnya pun kadang kebingungan membacanya. Inovasi katanya. Tapi kenapa guru & murid selalu yg ketinggalan keretanya?
Coba ya, para pembuat kebijakan itu pernah nginep nggak sih semalam aja di desa yg listriknya masih seperti mood Senin pagi: naik-turun nggak jelas? Pernah ngerasain sinyal cuma bisa nangkep kalau naik ke pohon jambu? Pernah gak lihat anak2 tanpa alas kaki berjalan puluhan kilometer ke sekolahnnya. Tapi begitu lihat TikTok konten sekolah yang digelontor miliaran udah puas dan tersenyum bangga, tapi anak-anaknya disuruh bikin projek Pancasila yg mereka sendiri nggak ngerti nilai di balik sila keberapa. Pokoknya asal rame, asal kelihatan kreatif. Artefak dikumpulkan, tapi jiwanya kosong.
Kolaborasi katanya. Tapi yang terjadi? Anak² dibariskan dalam kasta akademik, bahkan akan ada kasta sekolah, kompetisi dibungkus kolaborasi, seperti bakso isi cabe rawit, kelihatannya adem, tapi bikin panas hati. Kurikulum Merdeka katanya tidak diganti, tapi kerasa kayak ganti gerbong berubah, dan kita semua disuruh ikut arus. Sebentar lagi saya pikir akan muncul istilah baru lagi atas nama efisiensi atau kebijakan penghematan. Saya mulai curiga, yang doyan eksperimen ini siapa? Murid & guru yang belajar, atau pembuat kebijakan yg lagi hobi nyoba² teori pendidikan yang paling sip?
Pendidikan mestinya bikin manusia berpikir. Tapi sistemnya malah sibuk bikin manusia yang bisa dikontrol. Di kelas, anak² ngerjain tugas dengn tatapan kosong. Hafal rumus, iya. Tapi arah hidup? Nggak tahu. Mereka sibuk menata resume sekolah dan muka pedidikan, tapi makin jauh dari jati dirinya.
Sumatif? Iya, anak² tetap dipaksa ikut tes. Dan nilai akhirnya bikin wali murid senyum lebar, padahal mereka gak tahu isi kepala anaknya. Karakter? Ah, itu kayak bumbu penyedap di mie instan, disebut-sebut, tapi nggak terasa. Sementara gurunya? Masih harus mikirin besok bayar sekolah anaknya dan cicilan yg tersenyum lebar diawal bulan, begitu aja masih sambil muter otak gimana bikin murid² “terinspirasi”. Lah, siapa yang kasih inspirasi buat guru?
Ini bukan ironi. Ini luka. Luka yang dirayakan tiap hari supaya kelihatan normal.
Saya bermimpi….iya, masih berani bermimpi, bahwa pendidikan suatu hari kembali menjadi taman berpikir. Bukan ruang penuh soal pilihan ganda, bukan panggung lomba yg dipoles untuk postingan bemper pembuat kebijakan, bukan tempat uji coba kurikulum yang tak sempat matang. Taman itu, mestinya jadi tempat manusia tumbuh, saling memahami, menemukan dirinya, dan mencintai proses berpikir sebagai proses menjadi manusia utuh.
Untuk siapa pendidikan Indonesia ini? Untuk siapa kita mengajar? Kalau jawabannya cuma untuk melanggengkan sistem, maka sungguh, kita sudah GAGAL… bahkan sebelum lonceng pulang berbunyi.
Dan saya…sebagai Kepala Sekolah, hanya ingin besok pagi masuk kelas melihat guru-guru saya mengajar yang merasa sedang ikut lomba siapa paling patuh pada edaran tentang kurikulum pendekatan terbaru. Saya hanya ingin jadi Kepala Sekolah yang ingin menemani guru, menemani murid-murid menemukan jati dirinya dan mampu mengadaptasikan dirinya seiring perubahan waktu dan zaman. Tidak lebih, tapi semoga itu cukup.
