Sang Motivator dan Tokoh Vokasi Mengakhiri Tugas sebagai Kepala SMKN 5 Banjarmasin

Banjarmasin,16 Maret 2026 (SP) – Sebuah fase penting dalam perjalanan kepemimpinan pendidikan vokasi di Kalimantan Selatan resmi berakhir. Pada hari Senin, 16 Maret 2026, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melaksanakan pelantikan kepala sekolah SMA, SMK, dan SLB Negeri se-Kalimantan Selatan yang berlangsung di Gedung Idham Chalid, Banjarbaru. Momentum tersebut menjadi penanda berakhirnya masa tugas Dr. Drs. H. Syahrir, MM sebagai Kepala SMKN 5 Banjarmasin setelah mengabdi lebih dari 16 tahun atau empat periode masa jabatan.
Pergantian ini merupakan hal biasa dan lumrah karena pimpinan memiliki argumen dan alasan tertentu terkait hal ini dan juga ketika dikaitkan dengan Permendikdasmen Nomor 7 Tahun 2025 yang mengatur bahwa masa jabatan kepala sekolah maksimal hanya dua periode berturut-turut atau setara dengan delapan tahun, dengan masing-masing periode berdurasi empat tahun. Aturan baru tersebut sekaligus mencabut ketentuan sebelumnya dalam Permendikbudristek Nomor 40 Tahun 2021 yang memperbolehkan kepala sekolah menjabat hingga 16 tahun. Berdasarkan regulasi terbaru tersebut, kepala sekolah yang telah menjalani dua periode wajib kembali menjalankan tugas utamanya sebagai guru.
Bagi Syahrir, berakhirnya masa jabatan sebagai kepala sekolah bukanlah akhir dari pengabdian di dunia pendidikan, melainkan bagian dari siklus profesi seorang pendidik. Selama lebih dari satu setengah dekade memimpin SMKN 5 Banjarmasin, Syahrir dikenal sebagai sosok motivator, inovator, sekaligus tokoh vokasi yang aktif memperjuangkan kemajuan pendidikan kejuruan di Indonesia.
Ketika ditanya apakah seluruh program dan visi misinya selama menjabat telah tercapai, Syahrir menjelaskan bahwa seluruh program kepemimpinan sekolah selalu disusun secara sistematis melalui Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) serta Rencana Kerja Tahunan yang dirancang bersama tim manajemen sekolah. Tim tersebut merupakan representasi dari para guru dan unsur manajemen sekolah sehingga seluruh kebijakan yang dijalankan bersifat kolektif dan partisipatif.
“Program-program yang dilaksanakan di sekolah tidak pernah berdiri sendiri. Semua disusun bersama tim manajemen sebagai representasi guru-guru dan diselaraskan dengan RKJM serta rencana kerja tahunan. Dengan demikian, setiap program memiliki arah yang jelas dan terukur,” ujar Syahrir.
Pengalaman internasional yang dimiliki Syahrir turut memberikan warna tersendiri dalam kepemimpinannya. Ia pernah tinggal di Jerman dan menempuh pendidikan di Universitas Magdeburg. Pengalaman tersebut membentuk perspektif global yang kuat dalam memandang sistem pendidikan, khususnya pendidikan vokasi.
Menurutnya, pendidikan Indonesia harus terus diperjuangkan agar tetap bermartabat tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa. Ia menegaskan bahwa kemajuan pendidikan tidak hanya diukur dari teknologi dan fasilitas, tetapi juga dari karakter dan identitas nasional yang dijaga.
Selain dikenal sebagai praktisi pendidikan, Syahrir juga merupakan seorang Doktor di bidang Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta aktif sebagai pengamat kebijakan publik. Ia menilai bahwa regulasi yang dibuat pemerintah harus benar-benar ditegakkan dan diawasi agar implementasinya dapat berjalan efektif.
“Regulasi yang dibuat oleh pemerintah harus ditegakkan dan diawasi secara konsisten. Tanpa pengawasan, kebijakan yang baik sekalipun tidak akan memberikan dampak nyata,” ungkapnya.
Selama menjabat sebagai kepala sekolah, Syahrir juga memiliki peran strategis di tingkat Nasional sebagai Fasilitator Nasional pendidikan vokasi. Dalam kapasitas tersebut, ia telah diundang sebagai pembicara dan narasumber di 76 SMK di berbagai daerah di Indonesia. Perannya sebagai motivator pendidikan vokasi membuat namanya dikenal luas di kalangan praktisi pendidikan kejuruan.
Kiprah Internasional Syahrir juga cukup menonjol. Ia pernah mendapat tugas dari Kementerian Pendidikan untuk menjajaki berbagai kerja sama pendidikan lintas negara. Salah satu peran pentingnya adalah sebagai anggota jaringan SEAMEO (Southeast Asian Ministers of Education Organization), organisasi kerja sama pendidikan di kawasan Asia Tenggara yang berkantor sekretariat di Bangkok, Thailand.
Pada tahun 2024, Syahrir berhasil menjembatani kerja sama 83 SMK dari 18 provinsi di Indonesia dengan lembaga pendidikan vokasi di Thailand. Kerja sama tersebut menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat jejaring internasional pendidikan vokasi Indonesia.
Selain itu, Syahrir juga pernah mengikuti pendidikan manajerial di Institute of Technical Education (ITE) Singapura. Dari pengalaman tersebut, ia menilai bahwa Indonesia harus terus mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju seperti Singapura maupun negara-negara anggota OECD.
Ia juga pernah mengikuti program penelitian pendidikan vokasi di SEAMEO VOCTEC Brunei Darussalam, yang semakin memperkaya wawasan dan pengalamannya dalam pengembangan pendidikan kejuruan.
“Di negara-negara Eropa seperti Jerman, pendidikan vokasi mendapat dukungan sangat kuat dari pemerintah. Industri dan pendidikan berjalan berdampingan. Harapan saya, Indonesia juga semakin serius mengembangkan sistem vokasi seperti itu,” ujarnya.
Di luar tugas sebagai kepala sekolah, Syahrir juga aktif dalam berbagai organisasi profesi dan akademik. Ia tercatat sebagai Ketua DPD AKSI (Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia) Kalimantan Selatan, Ketua DPW IGVIM (Ikatan Guru Vokasi Indonesia Maju) Kalimantan Selatan, serta Wakil Ketua DPD FORSILADI (Forum Silaturahmi Doktor Indonesia) Kalimantan Selatan. Selain itu, ia juga aktif menulis sebagai kontributor pada lembaga riset internasional GIGA Institute Hamburg, Jerman.
Ketika ditanya mengenai aktivitasnya setelah tidak lagi menjabat sebagai kepala sekolah, Syahrir mengatakan bahwa dirinya akan kembali menjalankan tugas sebagai guru hingga memasuki masa pensiun pada tahun 2027.
“Pada dasarnya saya adalah guru yang selama lebih dari 16 tahun diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah. Jadi ketika kembali mengajar, tidak ada yang berubah dari identitas saya,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa menjadi guru merupakan pekerjaan yang sangat mulia.
“Tidak ada kemuliaan yang hilang ketika seseorang kembali menjadi guru. Justru guru adalah profesi yang paling mulia karena membentuk masa depan generasi,” tambahnya.
Di samping aktivitas mengajar, Syahrir juga memiliki berbagai tanggung jawab di bidang Pendidikan Tinggi. Ia dipercaya sebagai Sekretaris Eksekutif Yayasan Pendidikan Bina Banua, yang mengelola STIA Bina Banua Banjarmasin dan SMK Bina Banua Banjarmasin. Selain itu, ia juga menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif pada Yayasan Pendidikan Bina Ilmu yang mengelola STIMIK Indonesia Banjarmasin. Tidak hanya itu, Syahrir juga menjadi Sekretaris Eksekutif pada Yayasan Pendidikan Bandarmasih yang mengelola STIENAS Banjarmasin dan AKPARNAS Banjarmasin. Ia juga menjabat sebagai Sekretaris Yayasan Pendidikan Bunga Kalimantan yang mengelola POLTEKIN Indonesia Banjarmasin, yang sebelumnya dikenal sebagai Akbid Kebidanan Bunga Kalimantan.
Selain itu, ia juga merupakan pendiri sekaligus pemilik Yayasan Pendidikan Al-Husna Banjarbaru yang mengelola TK Al-Husna. Dengan berbagai aktivitas tersebut, Syahrir tetap aktif dalam dunia pendidikan meskipun tidak lagi menjabat sebagai kepala sekolah.
Ketika ditanya bagaimana cara mengatur waktu di tengah kesibukan yang padat, Syahrir menjawab bahwa kunci utamanya adalah manajemen yang baik.
“Berbicara manajemen berarti berbicara tentang bagaimana pekerjaan itu dibagi habis. Semua orang yang terlibat harus memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas,” jelasnya.
Ia juga aktif mengajar sebagai Dosen di beberapa perguruan tinggi dan menyampaikan bahwa inti dari kepemimpinan adalah kemampuan memanusiakan manusia.
“Kunci kesuksesan seorang pemimpin adalah memanusiakan manusia,” ujarnya.
Syahrir juga membagikan refleksi filosofis tentang perjalanan hidup dan kepemimpinan.
“Segala yang datang dalam hidup hanyalah titipan waktu. Ia hadir sebentar lalu kembali kepada takdirnya. Pada akhirnya bukan tentang siapa yang paling berkilau, tetapi siapa yang paling tulus memberikan kehidupan. Teruslah menjadi sumber kebaikan, karena pantulan dari hati yang tulus akan menerangi jalan kita sendiri,” ungkapnya.
Pada tahun 2024, Syahrir juga mendapat kesempatan menghadiri undangan UNESCO PBB dalam kegiatan Internasional di Beijing dan Tianjin, Tiongkok. Pertemuan tersebut mempertemukan delegasi pendidikan dari berbagai negara dan memberikan pengalaman berharga mengenai perkembangan teknologi pendidikan global.
“Melihat kemajuan teknologi di negara lain membuat kita semakin sadar bahwa Indonesia harus terus berbenah agar tidak tertinggal,” ujarnya.
Pada tahun 2025, Syahrir juga menerima Penghargaan dari Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Kalimantan Selatan atas kontribusi pemikiran melalui tulisan-tulisan kebijakan publik yang berkaitan dengan Pendidikan, kemudian dibukukan dan dipublikasikan secara luas.
Sebagai pengamat kebijakan publik, ia mengaku cukup prihatin ketika ada kebijakan pemerintah yang kurang memperhatikan kesejahteraan guru. Namun demikian, ia mengapresiasi perhatian pemerintah daerah Kalimantan Selatan yang menurutnya cukup konsisten dalam meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik.
Ketika ditanya mengenai cita-cita yang belum tercapai, Syahrir menyebut bahwa ia memiliki keinginan untuk menjelajahi dunia hingga mengunjungi 50 negara.
“Saat ini saya sudah mengunjungi 46 negara. Masih ada empat negara lagi yang ingin saya kunjungi,” katanya.
Ia optimistis dapat mewujudkan cita-cita tersebut, terutama karena aktivitasnya sebagai Dosen dan Peneliti membuka peluang untuk melakukan perjalanan akademik ke berbagai negara.
Dari puluhan negara yang pernah dikunjungi, Syahrir mengaku setiap negara memiliki keunikan tersendiri. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan untuk melakukan lobi kerja sama pendidikan di Perancis. Melalui upaya tersebut, Indonesia berhasil memperoleh bantuan peralatan pendidikan yang juga dimanfaatkan oleh SMKN 5 Banjarmasin.
Pengalaman lain yang tak kalah menarik adalah ketika ia ditugaskan ke Taiwan untuk menjajaki kerja sama pendidikan meskipun Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan negara tersebut. Tujuannya adalah membuka peluang bagi lulusan SMK Indonesia untuk melanjutkan kuliah sambil bekerja di Taiwan, dan banyak lagi pengalaman lainnya diberbagai negara.
Ia juga pernah mendapat tugas dari Wali Kota Banjarmasin saat itu, H. Muhidin—yang kini menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Selatan—untuk memfasilitasi delegasi pemerintah kota dalam kegiatan Connectivity Cities di Köln, Jerman. Kegiatan internasional tersebut diikuti berbagai negara dan berhasil memperkuat jejaring kerja sama kota.
Sebagai kepala sekolah, Syahrir juga pernah menerima penghargaan dari Kementerian Pendidikan sebagai Pemimpin Sekolah Hebat Indonesia. Ia juga memperoleh penghargaan dari sebuah perguruan tinggi di Phnom Penh, Kamboja, atas perannya dalam menjembatani kerja sama teachers and students exchange antara Indonesia dan negara lain.
Menurutnya, kolaborasi internasional sangat penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Negara lain sangat terbuka untuk bekerja sama selama tujuan kita jelas. Pengalaman saya di Rusia, Korea Selatan, dan negara lainnya menunjukkan bahwa kerja sama pendidikan selalu disambut dengan baik,” jelasnya.
Terkait dengan kepemimpinan baru di SMKN 5 Banjarmasin, Syahrir menyatakan akan memberikan seluruh informasi yang diperlukan untuk mendukung kelanjutan pengembangan pendidikan vokasi di sekolah tersebut. Ia berharap kerja sama Internasional yang telah dibangun selama ini dapat terus dilanjutkan, begitu juga dengan program-program lainnya termasuk program BLUD yang sudah merintis kerjasama dengan Walikota Banjarmasin dalam pembuatan mesin-mesin untuk mengatasi sampah di Kota Banjarmasin.
“Saya berharap hubungan kemitraan luar negeri yang sudah berjalan dapat terus dilanjutkan. Selama ini kita telah mengirim guru dan siswa ke berbagai negara, bahkan guru yang dikirim ke luar negeri juga mengajar di sana,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Syahrir menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan atas kepercayaan yang diberikan kepadanya selama lebih dari 16 tahun memimpin SMKN 5 Banjarmasin.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh guru dan staf tata usaha jika selama masa kepemimpinannya terdapat kekhilafan.
“Dengan doa yang tulus, saya berharap SMKN 5 Banjarmasin ke depan semakin maju dan sukses,” katanya.
Menurut Syahrir, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menginspirasi orang lain untuk sukses, tutupnya.
