MENAGIH UDARA BERSIH DI TENGAH KARHUTLA YANG BERULANG
Oleh: Wardiman, S.Pd., M.Pd / Tenaga Pendidik & Aktivis Lingkungan.

Peristiwa itu terus berulang, seperti lingkaran yang terus kembali ke titik semula. Setiap kali musim kemarau datang, ritmenya seolah telah terhafal dengan baik. Titik panas mencuat, api berkobar, asap mengepul tebal menutupi kaki-kaki langit, dan kualitas udara pun tercemar. Aktivitas masyarakat mulai terganggu, sekolah-sekolah membatasi kegiatan di luar ruangan, sementara suara peringatan kesehatan kembali menggema dari berbagai penjuru. Setelah hujan turun, asap tebal perlahan menghilang. Langit kembali cerah, kehidupan berjalan seperti biasa, dan kita pun seolah melupakan semuanya hingga musim kemarau berikutnya datang membawa cerita yang sama.
Tahun berikutnya, semuanya berulang. Pertanyaannya, apa sebenarnya yang belum selesai?
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa ISPA masih menjadi salah satu persoalan kesehatan dengan jumlah kasus yang sangat besar di Indonesia. Pada 2025, hingga pekan ke-47, tercatat 13,37 juta kasus ISPA. Sementara itu, di wilayah yang mengalami karhutla dan paparan asap, persoalan kesehatan pernapasan menjadi semakin penting untuk diperhatikan. Di Kalimantan Selatan, misalnya, tercatat 189.111 kasus ISPA hingga Agustus 2023. Angka-angka tersebut memang tidak dapat serta-merta diterjemahkan bahwa seluruh kasus ISPA disebabkan oleh karhutla. Namun, angka itu memberi kita satu pesan penting bahwa kesehatan pernapasan masyarakat bukan persoalan kecil. Ketika asap karhutla mencemari udara yang setiap hari dihirup, risiko tersebut tidak boleh ditempatkan sekadar sebagai konsekuensi sampingan dari kebakaran. Sebab asap tidak berhenti di batas lahan yang terbakar, tapi Ia bergerak bersama angin. Asap memasuki rumah, merengsek ke ruang kelas dan bahkan ia tidak memilih siapa yang harus menghirupnya. Anak-anak, guru, pedagang, pengemudi, dan lansia menghirupnya.
Pada hakikatnya, ketika karhutla menghasilkan asap, persoalannya tidak lagi berhenti di ranah hutan saja. Ia telah masuk ke ruang-ruang hidup manusia. Namun, cara kita memandang karhutla masih sering berhenti pada api. Lebih sibuk menghitung berapa hektare lahan yang terbakar, berapa titik panas yang terdeteksi, berapa banyak armada dikerahkan, dan seberapa luas wilayah yang berhasil dipadamkan.
Benar. Semua itu penting, tetapi ada satu hal yang sering terlambat terkalkulasikan yakni, berapa banyak manusia yang harus menghirup akibatnya?
Mungkin sudah waktunya ukuran keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat api dipadamkan, tetapi juga seberapa jauh masyarakat terlindungi dari asap. Sebab api dapat dilihat, asap dapat dirasakan, tetapi dampaknya terhadap tubuh manusia tidak selalu terlihat pada hari yang sama.
Di sinilah cara pandang perlu diubah. Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan semata. Ketika kepulan asap mencemari udara dan mengganggu kesehatan masyarakat, karhutla juga menjelma menjadi persoalan kesehatan publik. Masyarakat berulang kali dipaksa hidup dalam udara yang tercemar, diimbau memakai masker, mengurangi aktivitas di luar ruangan, dan membatasi berbagai kegiatan hingga kualitas udara kembali membaik. Namun, di balik semua imbauan tersebut, ada pertanyaan yang lebih membumi, “Bagaimana dengan hak masyarakat untuk menghirup udara yang bersih dan hidup dalam lingkungan yang baik dan sehat?”
Ironisnya, masyarakat seolah dipersiapkan untuk bertahan menghadapi asap, bukan dibebaskan dari asap itu sendiri. Masker menjadi perlindungan, pembatasan aktivitas menjadi kebiasaan, dan pemantauan kualitas udara menjadi rutinitas setiap kali kabut mulai menyelimuti langit. Semua itu penting dalam keadaan darurat. Namun, jika langkah-langkah tersebut terus berulang setiap tahun, bukankah ada sesuatu yang lebih mendasar yang belum diselesaikan?
Di sinilah karhutla yang berulang menjadi persoalan yang lebih besar daripada sekadar kebakaran. Sebab ketika sebuah masalah terjadi sekali, maka itu disebut kejadian, tapi ketika terjadi berkali-kali, maka itu disebut sebagai pola yang terorganisir. Secara ilmu sains, asap bukanlah musim. Asap adalah konsekuensi. Jika konsekuensinya terus berulang, maka yang harus dipertanyakan bukan hanya bagaimana memadamkan api, tetapi mengapa api terus mendapatkan kesempatan untuk kembali menyala ditiap tahun?
Jangan menunggu masyarakat batuk secara masif untuk menyadari bahwa ada kegagalan sistemik dalam penanganan karhutla. Jangan pula menunggu laporan Kementerian Kesehatan mempublikasikan berapa banyak anak yang menderita ISPA, baru kemudian bergegas membagikan obat dan membuka layanan kesehatan. Penanganan tidak semestinya baru bergerak ketika dampaknya sudah memenuhi angka statistik. Sebab, ketika angka-angka itu telah tercatat, sesungguhnya ada manusia yang lebih dahulu menanggung sakitnya.Udara bersih adalah kebutuhan mendasar. Ia bukan kemewahan, apalagi hadiah setelah api berhasil dipadamkan. Karena itu, sudah saatnya pihak-pihak terkait tidak sekadar bersiap menghadapi siklus karhutla yang berulang, tetapi berani memutus mata rantainya. Pencegahan harus dimulai sebelum api menyala, bukan setelah asap memenuhi udara.
Masyarakat ingin membuka jendela tanpa melihat langit berubah kelabu. Mereka ingin beraktivitas tanpa terlebih dahulu bertanya apakah udara hari ini aman?.
Sesungguhnya, masyarakat tidak sedang meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin bernapas tanpa rasa khawatir dan jika udara bersih adalah kebutuhan dasar manusia, maka sudah waktunya masyarakat tidak hanya menunggu langit kembali cerah, tetapi tiba waktunya untuk menagih udara bersih.
