FEATUREDGeneralIlmu PengetahuanNewsPendidikanPopular NewsTechnology

Denyut Ekosistem Seni Kota Banjarbaru : Mess L dan Misbar sebagai ruang bernafas penggiat seni

Oleh: Siti Agustina Amalia, S.A.P / Mahasiswa Pasca Sarjana STIA Bina Banua Banjarmasin.

Kota Banjarbaru kini memegang peran penting sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan. Julukan Kota Idaman bukan lagi sekadar slogan di atas kertas, melainkan sebuah identitas baru yang terus dibentuk setiap hari. Pembangunan fisik berjalan cepat, gedung-gedung pemerintahan berdiri megah, dan jalan-jalan kota makin ramai oleh lalu lintas kendaraan. Di tengah hiruk pikuk perubahan wajah kota ini, ada satu denyut kehidupan yang tidak boleh terlupakan yaitu dinamika ruang kebudayaan dan ekspresi anak muda. Topik mengenai ruang publik, tempat berkumpul yang inklusif, serta wadah berekspresi bagi anak muda kini menjadi perbincangan hangat di mana-mana. Masalah ini terasa sangat dekat dan nyata jika kita melihat aktivitas sehari-hari para penggiat seni lokal, khususnya komunitas seni seni pertunjukan yang kerap menggunakan kawasan Mess L serta Misbar kota Banjarbaru sebagai ruang latihan.

Bagi anak-anak muda yang tergabung dalam berbagai sanggar paguyuban atau komunitas pertunjukan di Banjarbaru, tempat seperti Mess L dan Misbar bukan sekadar bangunan tua atau pelataran terbuka biasa. Lokasi-lokasi tersebut adalah rumah kedua, laboratorium kreatif, sekaligus tempat menumpahkan seluruh energi jiwa seni mereka. Setiap sore hingga malam hari, suasana di area tersebut selalu hidup. Kita bisa mendengar ritme musik musik pengiring tari daerah yang ditabuh secara berulang-ulang, derap langkah kaki para penari yang sedang menyelaraskan gerakan, hingga lantunan vokal dan dialog para pemain teater yang sedang mendalami peran. Aktivitas ini menunjukkan betapa besarnya potensi kreatif yang dimiliki oleh penggiat seni di Banjarbaru. Mereka tidak membutuhkan kemewahan berlebih untuk berkarya namun mereka hanya membutuhkan ruang yang aman, nyaman, dan ramah untuk mengasah bakat seni mereka secara konsisten.

Namun, di balik semangat membara para penggiat seni ini, tersimpan berbagai tantangan dan keterbatasan yang sering kali mereka hadapi di lapangan. Tempat latihan seperti Mess L dan Misbar memang sudah disediakan oleh Pemerintah Kota Banjarbaru sebagai bagian dari fasilitas publik. Namun demikian, urusan kenyamanan dan kelayakan fasilitas masih sering menjadi kendala utama. Masalah penerangan yang kurang memadai di malam hari, lantai yang tidak rata untuk latihan tari, minimnya peneduh saat cuaca hujan deras, hingga ketersediaan fasilitas penunjang seperti toilet bersih dan ruang ganti yang layak sering menjadi keluhan harian. Kondisi ini membuat para penggiat seni harus beradaptasi secara mandiri dengan keadaan seadanya. Keadaan ini tentu mengundang keprihatinan banyak pihak yang peduli pada perkembangan kebudayaan dan seni pertunjukan lokal.

Permasalahan ini menjadi sangat relevan jika kita kaitkan dengan fungsi Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) serta kebijakan Pemerintah Kota Banjarbaru secara luas. Pemerintah daerah tidak boleh hanya memandang kehadiran para penggiat seni di Mess L dan Misbar sebagai pelengkap keramaian kota semata. Kehadiran mereka justru merupakan aset budaya yang sangat berharga dan tidak ternilai harganya. Komunitas seni pertunjukan adalah penjaga tradisi sekaligus inovator budaya yang memberikan warna khas bagi identitas Kota Banjarbaru. Mengabaikan kebutuhan dasar mereka sama saja dengan membiarkan potensi besar generasi muda terbuang sia-sia. Perhatian pemerintah harus diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata yang terasa langsung manfaatnya oleh para pelaku seni di lapangan, bukan sekadar janji manis saat acara seremoni tahunan.

Kebijakan keberpihakan kepada para penggiat seni ini sebenarnya tidak membutuhkan pola pikir yang terlalu rumit atau birokrasi yang berbelit-belit. Hal paling mendasar yang dibutuhkan oleh teman-teman komunitas seni dan para penggiatnya adalah pembenahan serta perawatan fasilitas secara berkala. Pemerintah Kota Banjarbaru melalui dinas terkait dapat memulainya dengan hal-hal sederhana namun berdampak besar. Pembenahan penerangan di area Mess L, perbaikan pencahayaan serta tata suara dasar di panggung amfiteater Misbar, dan penyediaan ruang penyimpanan peralatan latihan akan sangat membantu aktivitas harian para pelaku seni. Ketika ruang publik dirawat dengan baik dan difasilitasi secara memadai, para penggiat seni tentu akan merasa dihargai dan diakui keberadaannya oleh pemerintah daerah mereka sendiri.Selain pembenahan fasilitas fisik, hal krusial lain yang perlu dibangun adalah komunikasi yang harmonis dan terbuka antara pejabat dinas dengan para penggiat seni. Sering kali terjadi jarak komunikasi yang cukup jauh antara para pembuat kebijakan di kantor pemerintah dengan para pemuda yang berlatih di lapangan setiap malam. Pejabat dinas sebaiknya tidak ragu untuk sesekali datang duduk bersama, berdiskusi santai, dan mendengarkan langsung apa yang menjadi kebutuhan serta kendala komunitas seni dan penggiatnya .

Pendekatan kekeluargaan dan informal seperti ini jauh lebih efektif untuk memahami akar masalah dibandingkan membuat rapat-rapat formal yang kaku. Dengan mendengarkan aspirasi dari bawah, setiap program kerja dan bantuan yang disusun oleh dinas akan menjadi lebih tepat sasaran dan berdaya guna secara nyata.

Ruang kreatif seperti Mess L dan Misbar juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pusat kegiatan ekonomi kreatif masyarakat lokal. Saat komunitas seni menggelar latihan terbuka atau pertunjukan rutin skala kecil, warga sekitar dan masyarakat umum akan datang berkunjung untuk menikmati hiburan. Momen keramaian ini dapat dimanfaatkan oleh para pelaku UMKM lokal, penjual kuliner, dan pengrajin souvenir untuk menjajakan produk mereka. Di sini terlihat jelas adanya jalinan saling menguntungkan antara seni, ruang publik, dan ekonomi warga. Seni pertunjukan tidak lagi dipandang sebagai kegiatan yang menghabiskan waktu semata, melainkan menjadi pemicu bergeraknya roda ekonomi kecil di sekitar area perkotaan. Pemerintah Kota Banjarbaru tentu memiliki kepentingan besar untuk mendorong terciptanya ekosistem positif ini secara berkelanjutan.

Tantangan lain yang kerap dialami oleh komunitas seni pertunjukan adalah masalah keberlanjutan regenerasi dan wadah penampung karya. Setelah berbulan-bulan melakukan latihan keras di Mess L atau Misbar, para penggiat seni tentu membutuhkan panggung yang layak untuk menampilkan hasil karya mereka kepada apresiator seni serta masyarakat. Pemerintah daerah perlu hadir memfasilitasi pementasan berkala, panggung pertunjukan rutin bulanan, atau festival seni tingkat kota yang dikelola secara profesional. Dengan adanya agenda pementasan yang jelas dan terstruktur, para seniman memiliki target karya yang nyata, motivasi latihan yang tinggi, serta kebanggaan atas profesi seni yang mereka tekuni. Wadah pementasan ini juga menjadi sarana edukasi seni yang sangat baik bagi generasi muda dan masyarakat Banjarbaru pada umumnya.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan sebuah kota tidak hanya diukur dari banyaknya gedung bertingkat atau indahnya jalan protokol, melainkan juga dari bahagianya warga dan hidupnya aktivitas kebudayaan di dalam kota tersebut. Para penggiat seni pertunjukan yang berlatih di Mess L serta Misbar adalah bagian utama dari jiwa Kota Banjarbaru. Mereka merawat warisan leluhur sekaligus menciptakan karya-karya baru yang memperkaya khazanah budaya daerah. Pemerintah Kota Banjarbaru bersama dinas terkait memiliki kesempatan besar untuk terus hadir sebagai pelindung, pendukung, dan sahabat bagi para penggiat seni ini. Dengan memberikan perhatian pada hal-hal sederhana namun mendasar, kota ini akan tumbuh menjadi tempat yang elok, ramah, nyaman, kreatif, serta membanggakan bagi seluruh warganya di masa sekarang dan masa mendatang secara berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *