GadgetsGeneralHot NewsIlmu PengetahuanNewsPendidikan

GEN Z : GENERASI TOLOL?

Oleh: Dr. Drs. H. Syahrir., MM. / Ketua DPW IGVIM (Ikatan Guru Vokasi Indonesia Maju) Kalimantan Selatan.

Di media sosial, video “Tes matematika dadakan” selalu jadi ajang buat ngetawain Gen Z. Saat mereka gagap ngitung tujuh kali delapan atau bingung pada soal penambahan dan pengurangan, kolom komentar langsung penuh dengan makian: “Generasi tolol!” atau “Generasi malas!”

Mari kita telaah lagi lebih dalam. Benarkah mereka tolol? Saya tidak setuju.

Kita dulu mahir menghitung luar kepala bukan karena kita lebih pintar, tapi karena kita “disiksa” oleh sistem. Dulu kita disuruh berdiri di depan kelas ditanya guru tentang perkalian. Tidak bisa jawab? Cetar! Telapak tangan kita dihajar pakai penggaris. Malu? Pastinya. Itu sebabnya, kita terpaksa belajar menghitung di luar kepala. Tuntutan zamannya memang begitu.

Bagaimana Sekarang? Pelajaran seperti itu sudah dianggap fosil. Sekolah merasa hal itu tidak relevan lagi. Sama halnya dengan tulisan tangan mereka yang sering diejek seperti cakar ayam. Mereka bukan tidak mampu, tapi mereka tumbuh di era di mana jempol lebih sering menari di layar HP daripada jari menjepit pulpen.

Salah satu HRD curhat di media sosial, mengeluh soal Gen Z. Ketika diwawancara, mereka bilang tidak mau datang ke kantor tiap hari dan minta di hari-hari tertentu kerja dari rumah.

Buat para HRD, ini indikasi malas dan mau kerja seenaknya. Padahal, ini adalah cara pikir yang sangat logis dan efisien. Kalau tujuan akhirnya adalah hasil kerja, buat apa buang waktu dua jam di jalan cuma buat duduk di kursi yang sama?

Kesimpulannya, Kita mengejek mereka karena tidak mahir di hal-hal yang sebenarnya sudah tidak dibutuhkan lagi di dunia nyata. Termasuk keharusan hadir secara fisik di zaman digital.

Kalau kita bedah pakai Neurosains, ini sebenarnya tanda otak mereka sangat cerdas dalam mengelola energi. Neokorteks manusia itu organ yang sangat pelit energi; dia nggak akan mempertahankan kemampuan yang sudah bisa dikerjakan oleh teknologi. Otak punya prinsip neuroplasticity: apa yang tidak dipakai, bakal dipangkas (Pruning). Sebab, sekarang semua jawaban ada di kantong celana, neokorteks anak muda secara otomatis membuang sirkuit saraf buat “Kerja kasar mental” seperti aritmatika dasar atau menulis indah.

Kapasitas kognitif yang tadinya habis buat hafal tabel perkalian, sekarang dialihkan buat hal yang lebih krusial yakni memproses arus informasi digital yang seliweran tiap detik dan navigasi sistem yang kompleks.

Mereka melakukan cognitive offloading alias memindahkan beban memori ke gadget supaya otak punya ruang lebih luas buat berpikir strategis dan kreatif. Jadi, mereka bukan tolol; otak mereka cuma lagi melakukan efisiensi besar-besaran agar nggak habis buat hal-hal receh yang sudah ada solusinya di HP.

Menyebut mereka tolol karena tulisan jelek atau tidak bisa menghitung cepat. Hal itu serupa dengan mengejek chef karena dia tidak bisa nyambel pake cobek. Padahal memang lebih efisien pakai blender. Kita terjebak bangga dengan “Penderitaan” masa lalu yang harus serba manual, padahal itu cuma masalah tuntutan zaman yang sudah lewat. Kita merasa superior karena bisa menghitung di luar kepala, padahal itu adalah tugas receh kalkulator. Anak muda sekarang sudah bebas dari beban kognitif jadul itu.

By the way, saya tidak pernah percaya perilaku dan kecerdasan manusia bisa dikelompokkan cuma berdasarkan label “Gen Z”, “Millennial”, atau “Boomer”. Itu sebenarnya cara malas buat memahami manusia. Terlalu menyederhanakan masalah.

Intelegensia tidak bisa dikotak-kotakkan pakai tahun lahir dan itu cuma alat pemasaran biar iklan lebih gampang dijual. Jadi, siapa sebenarnya yang ketinggalan? Kita yang bangga atas kemahiran di hal yang sudah digantikan chip atau mereka yang fokus mengendalikan masa depan?.

Berhenti merasa pintar hanya karena kita bisa melakukan apa yang mesin lakukan lebih baik dari kita. Karena pada akhirnya, dunia tidak akan butuh tulisan tangan yang bagus atau label generasi tapi dunia sangat membutuhkan pemikiran (brain) yang mampu menciptakan perubahan secara signifikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *