1,5 Jam Bersama Ibu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan (Dr. Ir. Hj. Galuh Tantri Narindra, ST., MT)
Oleh: Dr. Drs. H. Syahrir, MM (Kepala SMKN 5 Banjarmasin)/Pemerhati Pendidikan.
Ada pengalaman berharga yang tidak semua orang dapatkan. Pada tanggal 1 September 2025, tepat ketika sebagian besar masyarakat Kalimantan Selatan tertuju pada aksi demonstrasi besar-besaran di halaman kantor DPRD Provinsi, saya justru berkesempatan untuk menyaksikan momen yang akan saya kenang lama: 1,5 jam bersama Ibu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan di SMKN 5 Banjarmasin.

Mengapa momen ini begitu penting? Karena SMKN 5 Banjarmasin, sekolah menengah kejuruan terbesar di Kalimantan Selatan dengan 11 konsentrasi keahlian, menjadi sekolah pertama yang dikunjungi beliau sejak resmi menjabat sebagai Kepala Dinas. Fakta bahwa beliau memilih SMKN 5 Banjarmasin sebagai pintu masuk kunjungan perdana bukanlah hal sepele. Itu mencerminkan sebuah kesadaran: pendidikan vokasi, khususnya SMK, memiliki peran krusial dalam membangun kualitas sumber daya manusia di daerah ini.
Kunjungan itu berlangsung di tengah suasana tidak biasa. Karena adanya aksi massa, kegiatan pembelajaran di sekolah dilaksanakan melalui sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Meski tidak ada hiruk pikuk siswa di ruang kelas, suasana sekolah tidak kehilangan semangatnya. Guru-guru tetap berdedikasi, menyampaikan pelajaran melalui layar gawai dan komputer. Dan di tengah situasi itulah, Ibu Kadis hadir—membawa gagasan besar, visi luas, serta energi positif yang menyentuh semua orang yang hadir.
Pendidikan Bermartabat sebagai Pondasi
Dialog selama 1,5 jam itu membuka mata saya bahwa pemimpin muda yang duduk di kursi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan bukan sekadar birokrat. Ia adalah seorang pemikir, perancang masa depan, sekaligus penggerak yang mampu menyalakan kembali semangat pendidikan di daerah ini.
Beliau menekankan satu hal penting: pendidikan bermartabat. Kata “bermartabat” di sini bukan sekadar jargon, melainkan cita-cita yang harus diwujudkan. Pendidikan bermartabat berarti menghadirkan layanan yang adil, merata, berbasis data, dan berpihak pada kebutuhan nyata. Ia tidak boleh lagi sekadar berjalan berdasarkan kebiasaan atau rutinitas, melainkan harus bertumpu pada sistem yang transparan, akurat, dan modern.
Transformasi Digital: Pendataan Akurat, Kebijakan Tepat
Salah satu gagasan yang sangat menonjol adalah rencana pembenahan sistem pendataan di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Beliau menjelaskan dengan detail bagaimana pentingnya membangun aplikasi atau sistem digital yang mampu merekam keadaan riil pendidikan: data guru, tenaga kependidikan, sarana-prasarana, hingga kondisi infrastruktur di tiap satuan pendidikan.
Mengapa hal ini penting? Karena selama ini, banyak kebijakan yang tidak tepat sasaran akibat minimnya data yang akurat. Bantuan terkadang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan, atau sekolah yang sangat membutuhkan justru terlewat. Dengan sistem digital berbasis data nyata, setiap kebijakan akan lebih efisien, cepat, dan tepat sasaran.
Di sinilah saya melihat visi modern beliau: pendidikan masa kini tidak bisa dilepaskan dari teknologi informasi. Jika pemerintah mampu membangun sistem digital yang mumpuni, maka persoalan klasik seperti distribusi bantuan, pemerataan guru, atau kekurangan sarana bisa diselesaikan dengan cara yang lebih sistematis.

The Right Man on The Right Place
Selain pembenahan data, beliau menyoroti hal yang lebih mendasar: kompetensi kepemimpinan kepala sekolah. Menurut beliau, tidak semua orang yang menduduki kursi kepala sekolah otomatis memiliki kompetensi untuk memimpin. Karena itu, perlu dilakukan pendataan ulang, pelatihan, bahkan seleksi ulang untuk memastikan bahwa hanya orang yang benar-benar memiliki kompetensi yang bisa memimpin sekolah.
Prinsip ini jelas: the right man on the right place. Kepala sekolah bukan sekadar jabatan administratif, melainkan posisi strategis yang menentukan wajah pendidikan di sekolah. Jika kepala sekolah tidak visioner, sulit membayangkan sekolah mampu berkembang. Gagasan ini sangat relevan, mengingat masih banyak kepala sekolah di berbagai daerah yang diangkat lebih karena faktor non-profesional ketimbang kompetensi manajerial dan pedagogis.
Dengan pendekatan ini, diharapkan setiap SMA, SMK, maupun SLB di Kalimantan Selatan akan benar-benar dipimpin oleh orang yang tepat, yang mampu menggerakkan guru, memotivasi siswa, serta membangun jejaring dengan masyarakat dan industri.
Program Beasiswa: Membuka Jalan ke Dunia
Hal lain yang membuat saya terkesan adalah keberanian beliau berbicara tentang program beasiswa. Tidak hanya beasiswa S1, melainkan juga S2 hingga S3. Bahkan, ada gagasan untuk menjalin kerja sama dengan berbagai negara seperti Singapura, Finlandia, hingga China agar siswa berprestasi dari Kalimantan Selatan bisa melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Ini adalah visi besar yang harus diapresiasi. Mengapa? Karena beasiswa luar negeri bukan hanya soal gelar akademik. Lebih dari itu, ia membuka cakrawala berpikir, memperluas jejaring internasional, serta membawa pulang pengetahuan baru yang bisa diaplikasikan di daerah asal. Jika program ini berhasil, maka dalam 10–20 tahun ke depan, Kalimantan Selatan akan memiliki generasi intelektual yang sejajar dengan provinsi-provinsi maju di Indonesia.
Sinergi dengan Dunia Usaha dan Industri
Tidak kalah penting, beliau juga menyinggung tentang MoU dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) serta pemanfaatan CSR perusahaan untuk mendukung pendidikan. Ini merupakan langkah strategis yang sangat relevan bagi SMK seperti SMKN 5 Banjarmasin.
Sekolah vokasi membutuhkan mitra nyata di dunia kerja agar lulusan mereka benar-benar siap. Dengan adanya kerja sama resmi, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktik langsung di industri. Sementara itu, CSR perusahaan yang selama ini hanya difokuskan pada kegiatan sosial, bisa diarahkan untuk mendukung pendidikan: pembangunan laboratorium, beasiswa siswa miskin, hingga pelatihan keterampilan.
Refleksi Pribadi: Sosok Pemimpin Muda yang Visioner
Selama 1,5 jam itu, saya menyaksikan sosok pemimpin muda yang berbicara dengan lugas, penuh data, dan jelas arah tujuannya. Tidak ada kalimat basa-basi, melainkan pemikiran konkret yang bisa langsung diimplementasikan. Dengan latar belakang birokrasi yang panjang serta gelar Doktor yang beliau sandang, saya percaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Selatan akan bergerak ke arah yang lebih maju.
Saya teringat dengan pepatah lama: “Jika ingin melihat masa depan sebuah bangsa, lihatlah bagaimana pendidikan mereka hari ini.” Maka ketika ada seorang kepala dinas yang berani mengusung transformasi, kita semua patut mendukungnya.
SMKN 5 Banjarmasin: Simbol Harapan
Tidak kalah penting, kunjungan pertama ini memberi makna simbolis. SMKN 5 Banjarmasin bukan hanya sekolah terbesar di Kalimantan Selatan, melainkan juga cermin dari keberagaman konsentrasi keahlian yang ada. Dengan 11 bidang keahlian, sekolah ini menjadi rumah bagi ribuan siswa dengan latar belakang berbeda-beda.
Kunjungan Ibu Kadis ke sekolah ini adalah sebuah pesan: bahwa pendidikan vokasi harus menjadi perhatian utama. Di sinilah lahir generasi pekerja terampil, inovator muda, dan calon-calon wirausahawan yang kelak menopang ekonomi daerah. Ibu Kadis juga secara langsung bagaimana siswa membuat inovasi yang layak diperhitungkan dan diapresiasi, diantara Juara Pertama Nasional Sobat Competition di Laksanakan di Jakarta oleh United Tractors dengan membuat eksavator, begitu juga inovasi lainnya, yaitu siswa mampu membuat mesin pengolah sampah plastik untuk menjadi bahan bakar bensin, solar dan minyak tanah. Dan juga baru saja siswa jurusan las membuat mesin pengolah sampah plastik menjadi Paving Blok. Lebih jauh lagi Ibu Kadisdik mengapresiasi langkah yang sudah dilakukan terkait hubungan internasional yang sudah dirintis diantaranya mengirim guru mengajar di berbagai negara diantaranya, guru SMKN 5 Banjarmasin dikirim mengajar di Philipina, Australia, Rusia (Moscow), Kambodia, Thailand. dan juga mengirim guru dan siswa lainnya untuk pelatihan di Jerman, India, Amerika, Jepang.
Harapan ke Depan
Dari pertemuan 1,5 jam itu, saya pribadi menaruh harapan besar. Jika gagasan-gagasan beliau dapat diwujudkan, maka wajah pendidikan di Kalimantan Selatan akan mengalami perubahan nyata:
Pendidikan berbasis data → kebijakan lebih tepat sasaran.
Kepala sekolah berkompetensi → sekolah lebih berkembang.
Program beasiswa luas → lahir generasi global dari Kalsel.
Kerja sama dengan industri → lulusan SMK siap kerja.
Pemanfaatan CSR → pendidikan mendapat dukungan nyata dari dunia usaha.

Penutup
Saya percaya, momen 1,5 jam bersama Ibu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan bukan sekadar sebuah kunjungan seremonial. Itu adalah awal dari sebuah perjalanan panjang menuju pendidikan bermartabat di Kalimantan Selatan.
SMKN 5 Banjarmasin menjadi saksi pertama, bagaimana seorang pemimpin muda dengan segudang pengalaman dan gelar akademik tinggi, menyalakan lilin harapan di tengah gelapnya tantangan pendidikan. Dan bagi saya pribadi, kesempatan menyaksikan langsung dialog itu adalah pengalaman yang tak ternilai, sebuah pengingat bahwa perubahan besar seringkali dimulai dari pertemuan singkat yang penuh makna.

